UB Bawa Visi Kampus Berdampak ke Bojonegoro, Perkuat Sinergi Daerah

UB Bawa Visi Kampus Berdampak ke Bojonegoro, Perkuat Sinergi Daerah


Jakarta, CNN Indonesia

Universitas Brawijaya (UB) memperkuat komitmennya sebagai institusi pendidikan yang inklusif dan solutif dengan mengusung visi ‘Kampus Berdampak’. Hal ini terlihat dalam kunjungan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jumat (6/2), yang dipimpin oleh Rektor UB, Prof. Widodo, untuk menyelaraskan program hilirisasi riset dengan kebutuhan pembangunan daerah.

Pertemuan ini difokuskan pada tiga sektor utama yang menjadi prioritas pembangunan di Bojonegoro. Sektor tersebut meliputi upaya pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan, dan mitigasi bencana hidrometeorologi.

Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menyambut baik inisiatif yang dibawa oleh pihak kampus. Dalam diskusi tersebut, dirinya menekankan pentingnya solusi berbasis kajian akademik yang dapat langsung diterapkan di lapangan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi Bojonegoro saat ini masih menghadapi tantangan besar meski dikenal sebagai lumbung energi nasional. Masalah angka kemiskinan serta isu lingkungan seperti banjir dan kekeringan menjadi fokus yang harus segera ditangani.

“Kami ingin keresahan dan kesulitan kami terjawab dengan nyata melalui kajian akademik yang punya dampak langsung. Bojonegoro adalah lumbung energi, namun angka kemiskinan dan masalah lingkungan seperti banjir serta kekeringan masih menjadi PR besar,” tutur dia.



Di samping masalah lingkungan, Pemerintah Kabupaten juga menyoroti pentingnya validitas data melalui sistem DTSEN. Upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang saat ini berada di angka 73,74 juga menjadi agenda penting dalam kerja sama ini.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Widodo menegaskan bahwa UB memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi mitra aktif pemerintah. Sebagai putra daerah asli Bojonegoro, ia ingin memastikan inovasi universitas memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

“Tugas kami di perguruan tinggi adalah membangun jejaring dengan mitra pemerintah daerah. Kami ingin inovasi UB benar-benar dimanfaatkan masyarakat. Kami tidak ingin ilmu hanya di ‘menara gading’, melainkan belajar langsung dari masyarakat melalui program Doktor Mengabdi dan KKN mahasiswa,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3).

Guna memberikan dukungan teknis yang komprehensif, UB menyertakan tim pakar lintas disiplin dalam kunjungan ini. Tim tersebut terdiri dari ahli di bidang irigasi, pertanian, hingga peternakan untuk membedah masalah secara mendalam.

Salah satu poin penting dalam pertemuan ini adalah kesepakatan untuk mengubah pola kerja sama yang sebelumnya bersifat parsial. Kedua pihak sepakat beralih ke model Kontrak Payung (Umbrella Contract) untuk mengintegrasikan seluruh kolaborasi.

Mekanisme ini nantinya akan dikelola secara terpusat melalui Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) serta Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) UB. Pola koordinasi satu pintu ini diharapkan membuat pelaksanaan program menjadi lebih terarah, efisien, dan berkelanjutan.

Dalam sesi diskusi teknis, sejumlah inovasi konkret diusulkan untuk segera diimplementasikan di wilayah Bojonegoro. Salah satunya adalah konsep Retention Park yang ditawarkan oleh pakar irigasi UB, Prof. Solikin.

Fasilitas ini merupakan kolam retensi multifungsi yang dirancang untuk menampung air berlebih saat musim hujan guna mencegah banjir. Air yang tersimpan kemudian dapat digunakan sebagai cadangan air baku bagi warga saat musim kemarau tiba.

Di sektor peternakan, UB telah menginisiasi program ‘Gaya Tri’ atau Ayam Petelur Mandiri dengan menerjunkan ratusan mahasiswa KKN di 40 desa. Program ini menyasar masyarakat prasejahtera melalui pendampingan teknis dan penggunaan teknologi tepat guna.

Mahasiswa memperkenalkan sensor suhu otomatis untuk mengatasi masalah heat stress pada ayam petelur. Teknologi sederhana ini terbukti efektif dalam menjaga produktivitas ternak meski terjadi perubahan suhu lingkungan yang ekstrem.

Pada bidang pertanian, UB menawarkan solusi modernisasi melalui pemanfaatan pompa air berbasis tenaga surya (solar cell). Inovasi ini ditujukan untuk menekan biaya operasional petani, terutama bagi mereka yang mengelola lahan tadah hujan.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini, Pemkab Bojonegoro dijadwalkan akan melakukan kunjungan balasan ke kampus UB di Malang. Agenda tersebut akan difokuskan pada finalisasi draf kerja sama dan penyebaran hasil riset yang siap dieksekusi.

(rir)


Scroll to Top