Bagaimana Pemain Liverpool Ini Menghapus Stigma Negatif Mengenai Islam?

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp

Suara.com – Pemain Liverpool, Mohamed Salah, disebut telah menjadi “seorang panutan” yang mampu menghapus stigma negatif warga Inggris mengenai Islam dan orang Arab, kata dosen politik internasional dari Universitas Anglia Ruskin, Dr Solava Ibrahim.

Menurut dosen berdarah Mesir-Inggris itu, ada “persepsi dominan” mengenai Muslim yang berkaitan dengan “kekerasan, serangan teroris, atau penindasan terhadap perempuan”.

Solava Ibrahim mengatakan ada “momen yang luar biasa” ketika para penggemar Liverpool mulai bersorak bahwa Salah adalah “hadiah dari Allah” dan saat itu yang ramai di media sosial adalah tagar “kalau dia mencetak beberapa gol lagi, maka saya juga akan menjadi Muslim”.

“Itu tidak hanya menunjukkan penerimaan, tetapi juga posisi [Salah] sebagai panutan, tidak hanya bagi orang-orang Arab, Timur Tengah, dan Afrika, tetapi juga bagi anak-anak muda Inggris,” katanya.

Baca Juga:
Teken Kontrak Baru di Liverpool, Gaji Mohamed Salah Cuma Kalah dari 3 Pemain Ini

Baca juga:

Pada musim pertamanya setelah pindah dari AS Roma pada 2017, “si Raja Mesir” itu menjadi pencetak gol terbanyak di Liga Primer Inggris. Dia kemudian berkontribusi besar dalam keberhasilan Liverpool menjadi juara Liga Inggris dan juara Eropa.

Tetapi Salah kerap dipuji-puji atas kepribadian dan perilakunya di luar lapangan, yang telah mengubah persepsi terkait kesan elit pesepakbola sekaligus mendobrak batasan budaya.

Dia menyumbang untuk proyek pendidikan, perawatan kesehatan, dan hak-hak hewan, sehingga seorang mantan komentator sepak bola menyebut Salah “tidak pernah melupakan akarnya”.

Kebiasaannya bersujud setelah mencetak gol telah menggema secara global, bahkan di antara orang-orang yang bukan penggemar sepak bola.

Baca Juga:
Perpanjang Kontrak, Mohamed Salah Diklaim Terima Gaji Termahal di Liverpool

Pada 2015, dua penggemar Liverpool yang salat di Stadion Anfield dihujat “memalukan” bagi seorang pengguna Twitter, yang memicu kritik luas.

Menurut Najib Al-Hakimi, seorang koordinator di Liverpool Arabic Centre, dia senang mendengar nyanyian “hadiah dari Allah” untuk Salah, “karena selama ini orang-orang memandang Muslim seolah mereka dungu dan teroris”.

“Tetapi dengan sikapnya, Salah mengubah itu semua,” kata Al-Hakimi.

Sejak saat itu, dia menyaksikan lebih banyak orang-orang dari komunitas Arab di kota itu berkunjung ke Anfield selama beberapa tahun terakhir.

“Sebagian besar anak-anak muda itu menggunakan jersey Salah dan memuji betapa hebatnya dia.”

Seorang penggemar Liverpool, Neil Atkinson, yang menulis untuk The Anfield Wrap juga menyadari bahwa ada “pergeseran” di Merseyside.

“Apabila orang-orang merasa bahwa keyakinan Muslim itu berbeda, maka tindakan Salah adalah penting,” kata dia.

“Setelah bersujud di lapangan, saya menyukai bagaimana Salah berbalik untuk merayakan gol dengan penonton dan juga merayakan dirinya sendiri, itu sangat baik.”

Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp sebelumnya juga telah menceritakan bagaimana timnya menyesuaikan waktu agar Salah bisa menjalankan ritual keagamaan sebagai bagian dari persiapannya menuju pertandingan.

Kapten Liverpool, Jordan Henderson bahkan mengatakan bahwa tim memilih sampanye non-alkohol saat perayaan trofi.

“Di dalam ruang ganti tidak ada [intoleransi], jadi mengapa hal serupa tidak bisa terjadi di luar sana?”

Salah juga disambut bak pahlawan ketika dia berada di luar lapangan di area Liverpool.

Seorang anak-anak laki-laki yang sangat menggemari Salah bahkan menabrak tiang lampu jalan ketika dia berupaya mengejar pesepakbola itu pada 2019 lalu.

Hidung anak laki-laki bernama Lous Fowler patah, tetapi dia mengaku rasa sakitnya hilang seketika ketika Salah berbalik untuk mengecek keadaannya.

Menurut Dr Ibrahim, insiden itu telah menunjukkan “sisi kemanusiaan dan betapa membuminya” Salah.

“Dia jauh lebih terkenal dibandingkan banyak pemenang hadiah Nobel, tetapi dia tidak dipandang sebagai seseorang yang berada di tataran elit atau di atas awan, saya rasa itu lah mengapa pesan-pesannya dapat menyentuh,” kata dia.

Salah pernah mengatakan bagaimana perempuan “pantas mendapatkan lebih dari apa yang diberi [masyarakat] saat ini”.

Sejak itu dia muncul dalam video promosi Hari Perempuan bersama putri sulungnya, Makka. Dia juga pernah meminta istrinya, Magi, untuk menerima penghargaan sepatu mas atas nama dirinya pada tahun lalu.

“Lihat lah pesannya,” kata Dr Ibrahim.

“Ini bukan sekadar retorika dan tindakan, tapi ada kekuatan di situ. Dan itu terasa lembut dan nyata.”

Dalam salah satu dari sekian banyak banyak studi akademik mengenai “efek Salah”, sejumlah orang Inggris memamparkan bagaimana Salah “mengubah persepsi orang-orang tentang Islam”.

Salah satu peneliti dari Universitas Edinburgh, Grant Javie mengatakan, “Kami terkejut, bukan dengan dampak Mohamed Salah, tetapi biasanya dalam studi semacam ini kami mendapat campuran antara kritik dan komentar baik. Tapi secara umum, orang-orang merespons Salah secara positif baik di dalam maupun di luar lapangan.”

Dia menilai Salah memiliki “potensi soft power”, seraya menambahkan bahwa “olahraga bisa menjadi pemantik yang baik dalam hubungan antar-budaya”.

Pengaruh Salah dalam mengurangi Islamofobia, khususnya di kota yang memiliki masjid tertua di Inggris itu, dinilai “fenomenal” oleh Wali Kota Liverpool, Steve Rotheram.

Sedangkan majalah Time menobatkan Salah sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia pada 2019.

Tetapi bukan berarti Salah selalu dipuja-puja.

Pernyataannya pernah menuai perdebatan publik, setelah mengatakan bahwa rekan setimnya yang meminta maaf karena melakukan pelecehan seksual harus diberi “kesempatan kedua”.

Polisi Merseyside juga pernah memperingatkan Salah untuk tidak menggunakan ponsel saat mengemudi setelah dia terekam melakukan itu di dalam mobilnya yang dikelilingi oleh penggemar.

Namun, reputasi Salah relatif tidak ternoda dan bahkan dia mendorong pertumbuhan kota itu.

Landmark di Kota Liverpool semakin dikenal karena menjadi latar dalam iklan-iklan internasional yang mensponsori Salah.

Baru-baru ini Salah tampil dalam iklan Pepsi untuk penonton Timur Tengah yang menunjukkan dia dikejar-kejar oleh para penggemar.

Atkinson mengatakan bahwa perpanjangan kontrak Salah di Liverpool memungkinkan cerminan kemuliaan dari identitas Salah sebagai Muslim, orang Arab, dan Mesir untuk terus memberi kesan yang luar biasa bagi dirinya sendiri maupun bagi Liverpool.