Gadis Impor, Alasan Belanda Betah Menjajah di Batavia

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp

loading…

Gadis impor menjadi salah satu alasan mengapa Belanda betah menjajah di Batavia. Foto: Buku Kisah-Kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe karya Zaenuddin HM

JAKARTAGadis impor menjadi salah satu alasan mengapa Belanda betah menjajah di Batavia (sekarang Jakarta). Adanya impor gadis membuat pria kompeni “kerasan” tinggal di daerah koloni.

Mereka akan punya anak dan keturunan sehingga kelak dijadikan tentara, buruh, juru tulis, dan profesi lainnya. Dengan begitu, masa kekuasaan Belanda di daerah jajahan akan berlangsung lama dan langgeng.
Baca juga: Kisah Horor Saung Ranggon Bekasi, Tempat Singgah Pangeran Jayakarta dan Pertapaan Soekarno

“Pria tidak akan bisa hidup tanpa wanita. Supaya orang-orang kompeni bisa mendapatkan pasangan yang pantas, yang membuahkan anak-anak untuk menjadi kolonis yang layak pula, kirimlah wanita-wanita muda,” perintah Gubernur Hindia Belanda Jan Pieterszoon Coen yang berkuasa di Batavia pada 1617-1623 dikutip dari buku Kisah-Kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe karya Zaenuddin HM.

Ketika itu penduduk Batavia sangat sedikit. Masih didominasi orang-orang Belanda. Mereka cenderung tidak betah hingga ingin cepat-cepat pulang ke negerinya sehingga suasana kota terasa sunyi sepi.

Sebelum JP Coen berkuasa sebenarnya sudah didatangkan 36 wanita Belanda. Mereka diangkut dengan kapal laut yang menempuh pelayaran selama 10 bulan. Mereka adalah istri-istri tentara dan istri karyawan kompeni termasuk yang bekerja di lembaga VOC.

Jumlah perempuan itu dianggap masih sedikit, maka itu dipasoklah sejumlah gadis dari Eropa.

Pada tahun 1621, tiga keluarga diberangkatkan ke Batavia membawa gadis-gadis muda. Mereka harus teken kontrak tinggal selama 5 tahun di Batavia dan sekitarnya.

Mereka bekerja apa saja, namun tak menerima upah. Jika di antara mereka dapat jodoh akan diberikan emas kawin oleh kompeni.

Sebanyak 6 gadis tiba di Batavia pada tahun 1622. Mereka mendapat julukan “putri-putri kompeni”. Di tahun yang sama didatangkan juga sejumlah gadis dari Amsterdam.

Mayoritas masih lajang rata-rata umurnya 11-20 tahun. Memang gadis muda yang diinginkan penguasa kolonial karena memungkinkan mereka menikah dengan pria Belanda dan memiliki keturunan.