Mengenal BESS, Teknik Bedah Minim Rasa Sakit untuk Nyeri Tulang Belakang

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp

loading…

Nyeri tulang belakang menjadi salah satu gangguan yang paling banyak dialami oleh manusia. Foto Ilustrasi/Freepik

JAKARTA – Nyeri tulang belakang menjadi salah satu gangguan yang paling banyak dialami oleh manusia. Sekitar 80 persen penduduk dunia setidaknya pernah mengalami gangguan pada tulang belakang.

Penyebabnya bisa dipicu banyak faktor, mulai aktivitas sehari-hari yang salah, kegemukan, salah posisi, trauma tulang belakang (contoh, pernah jatuh terduduk hingga kecelakaan), saraf terjepit, kelainan kongenital tulang bekalang, gangguan akibat ifeksi dan tumor, sampai kelainan karena proses penuaan. Beberapa di antaranya bahkan sampai memerlukan perawatan lebih lanjut.

Baca Juga: Nyeri Tulang Belakang Bisa Diatasi Cepat dengan Teknologi Terkini BESS

Seiring dengan kemajuan teknologi, tindakan solusi untuk mengatasi nyeri gangguan tulang belakang di Indonesia semakin pesat. Tindakan medis seperti teknologi endoskopi PELD (Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy) familiar sebagai solusi masalah tulang belakang.

Di sisi lain, saat ini sudah ada juga yang dinamakan Biportal Endoscopic Spinal Surgery (BESS). BESS merupakan tindakan operasi bedah berteknologi tinggi yang minim invasif atau dengan kata lain minim luka sehingga menimalkan rasa sakit dan mengurangi adanya risiko kerusakan.

Baca Juga: Kurang Vitamin D Bisa Menyebabkan Tulang Belakang Menyusut

Pembedahan dilakukan dengan teknik terbaru Minimally Invasive Spine Surgery, sehingga pasien tidak perlu lagi melakoni pembedahan terbuka atau open surgery.

“Secara teknologi, tujuannya kan memperkecil risiko, menimalisasi kerusakan otot pada tulang punggung. Kerusakan pada jaringan tulang itu diminimalkan,” ujar Dr. dr. Wawan Mulyawan, Sp. BS, Sp. KP dalam webinar Metode Dekomperasi Saraf Terjepit Tulang Belakang Generasi Terkini RSU Bunda Jakarta, Kamis (27/1/2022).

Ketika dilakukan tindakan BESS, dokter tak lagi berpusat melihat tubuh pasien. Pandangan seperti disebut dr. Wawan, jadi bisa lebih dikontrol karena sudah ada kamera yang masuk ke dalam tubuh pasien.