Tragis Bangsa Kurdi, Bantu Gebuk ISIS Tapi Tak Diterima Sana-sini

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp

Jakarta, CNN Indonesia

Sebelum kematian Mahsa Amini di Iran, bangsa Kurdi sudah kerap memicu perhatian global, termasuk saat mereka membantu Amerika Serikat memukul mundur ISIS di Irak dan Suriah.

“Kita sudah menang melawan ISIS. Sekarang saatnya pasukan kita pulang,” ujar Presiden Donald Trump pada 2019 lalu.

Saat itu, Trump dengan bangga mengumumkan kemenangan ini setelah milisi pimpinan Kurdi yang mereka dukung, Pasukan Demokratik Suriah (SDF), merebut daerah Baghuz dari tangan ISIS.

Baghuz merupakan daerah kekuasaan terakhir ISIS di Suriah. Dengan kemenangan SDF, ISIS tak punya daerah cengkeraman lagi di Suriah, walau masih melakukan serangan kecil-kecilan di sana-sini.

Kemenangan besar koalisi AS dalam menumpas ISIS di Suriah memang tak bisa dilepaskan dari peran SDF.

SDF sendiri merupakan sayap militer dari Pemerintahan Otonomi Utara dan Timur Suriah (AANES) alias Rojava.

Mereka mendirikan daerah otonomi sendiri di kawasan utara dan timur Suriah pada 2012, setahun setelah perang pemberontakan pecah di berbagai penjuru negara.

[Gambas:Video CNN]

Mayoritas penduduk di Rojava merupakan bangsa Kurdi. Selain itu, berkumpul pula sejumlah komunitas etnis lainnya, seperti Arab, Asiri, hingga Yazidi.

Di awal pergolakan, Kurdi sebenarnya tak pernah terlibat langsung dalam perang. Namun, semuanya berubah pada 2014.

Kala itu, ISIS berhasil merebut daerah-daerah di timur Suriah dan utara Irak, mendirikan khilafah dengan daerah seluas Inggris.

Terancam, SDF mulai pasang badan. Di saat bersamaan, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, membentuk koalisi untuk melawan ISIS.

AS menggandeng sejumlah milisi lokal Suriah untuk melawan ISIS, termasuk SDF. Menteri Pertahanan AS saat itu, Ashton Carter, memuji kinerja SDF.

“[Kurdi] terbukti menjadi rekan sempurna bagi kami di medan perang melawan ISIS. Kami sangat bersyukur dan kami ingin terus bekerja sama, walau posisi mereka di kawasan sangat kompleks,” ucap Carter, seperti dikutip Hurriyet.

Kehadiran Kurdi di lapangan memang membuat posisi AS menjadi rumit. Masalahnya, selama ini Turki menganggap Kurdi sebagai “teroris” yang berupaya melakukan pemberontakan di negaranya.

Sebagaimana dilansir The New York Times, saat itu Kurdi juga baru saja mendeklarasikan pemerintahan federal sendiri di Rojava, memicu amarah Turki.

Melihat situasi rumit ini, AS tak pernah mengakui pemerintahan Kurdi di kawasan utara dan timur Suriah. Namun, mereka tetap bekerja sama dengan SDF untuk menggempur ISIS di Suriah.

Hingga akhirnya, SDF berhasil mengusir ISIS dari daerah kekuasaan terakhir mereka di Suriah pada 2019.

Dengan kepala tegak, Trump memerintahkan penarikan besar-besaran pasukan AS dari Suriah, meninggalkan bangsa Kurdi di Rojava.

Setelah AS angkat kaki, Turki langsung bergerak menyerang. Kurdi pun merasa AS menelantarkan mereka di tengah gempuran Turki.

Untuk kesekian kalinya sejak berabad-abad lalu, Kurdi kembali gagal mendirikan negara sendiri.

Lanjut baca di halaman berikutnya…


Nasib Tragis Kurdi di Irak


BACA HALAMAN BERIKUTNYA