UNJ Dorong Pendidikan Inklusif melalui Penguatan Kapasitas Guru di PKBM Ghaisan Cendekia

UNJ Dorong Pendidikan Inklusif melalui Penguatan Kapasitas Guru di PKBM Ghaisan Cendekia

UNJ Dorong Pendidikan Inklusif melalui Penguatan Kapasitas Guru di PKBM Ghaisan Cendekia

loading…

Tim dosen UNJ melaksanakan kegiatan PKM bertajuk Penguatan Kapasitas Guru Melalui Praktik Kolaborasi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus di PKBM Ghaisan Cendekia, Jakarta. Foto/Dok. SindoNews

JAKARTA – Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus bukan hanya berlandaskan pada kurikulum dan fasilitas semata. Tetapi bagaimana guru dapat membangun kolaborasi yang baik antara proses pembelajaran dan mencoba memahami karakteristik peserta didik sehingga kelas dapat berjalan secara efektif.

Meningkatnya kebutuhan layanan pendidikan inklusif di era sekarang, mendorong guru untuk memiliki kemampuan yang memadai untuk dapat menangani anak berkebutuhan khusus yang memiliki kebutuhan belajar beragam. Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Penguatan Kapasitas Guru Melalui Praktik Kolaborasi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus” di PKBM Ghaisan Cendekia, Jakarta. Baca juga: Pendidikan Inklusif untuk Anak Berkebutuhan Khusus Butuh Afirmasi Nyata

Penyuluhan ini dilakukan dengan tujuan untuk dapat memperdalam wawasan dan kompetensi guru dalam menghadirkan layanan pembelajaran yang inklusif dan suportif bagi anak berkebutuhan khusus. Penyuluhan ini menghadirkan pendampingan dosen dari Program Studi Pendidikan Khusus UNJ, yaitu Lintang A. Sholihah dan Wahyu Hardiani.

”Kedua tim pengabdi membimbing melalui penyampaian materi yang dikombinasikan dengan simulasi praktik dengan menitikberatkan pada analisis fungsi perilaku maladaptif anak berkebutuhan khusus serta praktik kolaborasi pembelajaran anak neurodivergen,” demikian pernyataan resmi UNJ dalam siaran tertulis, Rabu (15/7/2026).

Berdasarkan penyuluhan tersebut ditemukan hasil diskusi serta identifikasi mengenai kebutuhan langsung di lapangan, yaitu guru yang masih sulit dalam memahami penyebab munculnya perilaku maladaptif pada peserta didik. Aspek lain yang tidak kalah penting adalah perlunya penguatan sinergi pembelajaran antar berbagai pihak terkait, sehingga dapat mengoptimalkan tumbuh kembang dan capaian pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus.

Scroll to Top